NUMERIK ALQURAN adalah pengamatan yang dilakukan terhadap Alquran dengan format cetak 18 baris penulisan sehingga memperoleh perhitungan yang sangat cermat dan akurat, berdasarkan konsep rukun Islam dan Iman.

Rabu, 23 April 2014

SYAHADAT bagian 2

Melihat adanya dasar pijakan yang sama, bahwa semua ajaran agama yang dibawa oleh para utusan. Mulai dari Adam sampai dengan Muhammad, bahkan juga para utusan lainnya yang namanya tidak disebutkan di dalam Alquran, semua berbicara tentang ketauhidan. Semua menyeru manusia untuk beribadah dan mengabdikan diri hanya kepada-Nya, kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebagaimana diterangkan oleh-Nya pada QS.21 Al Anbiyaa’ di ayat ke 25 dan QS.23 Al Mu’minuun ayat ke 52.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku (25)”.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku (52).


Maka dengan demikian dapat dipastikan bahwasanya semua ajaran agama yang mereka bawa, dari Adam sampai Muhammad adalah ajaran agama Islam. Sehubungan dengan keberadaan Adam, sebagai seorang muslim pertama di muka bumi. Juga sehubungan dengan pembacaan dua kalimat syahadat, sebagai pelaksanaan dari rukun Islam yang pertama di dalam ajaran agama yang dibawa oleh Muhammad. Maka terkadang menjadi pembicaraan, atau pertanyaan di kalangan umat. Apakah sebagai seorang muslim, nabi Adam di masa lalu juga bersyahadat? Tidak sedikit pula umat yang percaya, bahwa sebenarnya nabi Adam juga bersyahadat. Dalam pengertian mengucapkan dua kalimat syahadat,  sebagaimana yang dilakukan umat Islam sekarang ini. Dimana secara lengkap dua kalimat syahadat itu berbunyi sebagai berikut;

“Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah”.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Tetapi dengan disertakannya kata Muhammad, di dalam syahadat Adam di masa lalu. Rasanya memang agak sulit untuk dapat memahami. Apalagi kalau yang dimaksud sebagai Muhammad pada dua kalimat syahadat itu. Adalah sosok dari nabi Muhammad,, seperti yang kita kenal sekarang sebagai utusan-Nya yang terakhir. Karena bukankah pada saat itu beliau belum ada, karena memang belum dilahirkan? Terhadap pembicaraan atau pertanyaan semacam ini, memang sulit bagi untuk kita dapat menjawab secara pasti. Karena pada dasarnya kita tidak berada, atau tidak hidup di masa kenabian Adam. Bahkan dalam hal ini, pertanyaan tentang syahadat semacam itu, bukan hanya ditujukan kepada nabi Adam saja. Karena ada juga yang mempertanyakannya terhadap Muhammad, sebagai Rasulullah. Apakah beliau sendiri juga bersyahadat? Mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagaimana yang dilakukan oleh umatnya? Seperti juga pertanyaan terhadap nabi Adam. Pertanyaan ini kita juga tidak akan pernah mampu dijawab dengan pasti. Apalagi penjelasan serta keterangan tentang bersyahadatnya Muhammad, juga tidak kita dapatkan di dalam Alquran.

Kalau disimak lebih dalam, sebenarnya pesan syahadat lebih banyak ditujukan kepada umat. Bukan kepada Adam atau Muhammad, atau para utusan-Nya yang lain. Dimana umat sebenarnya merupakan tujuan akhir dari petunjuk Allah berupa Alquran. Sebagaimana hal itu telah diamanatkan kepada para utusan. Agar sebagai utusan-Nya, mereka membangkitkan kesadaran umat, menerangkan dengan sebenarnya kepada umat. Siapa sesungguhnya yang dimaksud sebagai Tuhan, di alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Kepada siapa selayaknya sebagai mahluk ciptaan-Nya, manusia harus mengabdikan diri. Juga tidak lupa memperkenalkan kepada mereka tentang siapa dirinya. Orang yang telah diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menyampaikan amanat. Berupa petunjuk tentang jalan keselamatan bagi manusia, selama mereka menjalankan kehidupan di dunia dan kelak di akhirat.

Tentang adanya syahadat sebagai sebuah konsep, dan bagaimana pula syahadat itu sendiri seharusnya dilaksanakan. Sejauh ini penulis baru mengenalnya, hanya ada di dalam ajaran agama Islam. Jadi kalau memang benar demikian adanya, berarti syahadat adalah sebuah konsep yang memang benar-benar baru. Konsep yang belum pernah disampaikan kepada para utusan sebelumnya. Diturunkan kepada utusan-Nya yang terakhir Muhammad, untuk selanjutnya disampakan kepada umat. Dengan maksud untuk yang terakhir kalinya, Allah mengingatkan kembali seluruh umat manusia. Untuk apa sebenarnya mereka diciptakan. Dimana mereka diciptakan untuk mengabdi hanya kepada-Nya, sebagaimana dikatakan pada QS. 51 Adz Dzaariyat di ayat ke 56. Untuk dapat mengabdi kepada-Nya dengan benar, maka diturunkanlah Alquran sebagai kitab petunjuk. Selanjutnya syahadat ini ditempatkan sebagai rukun yang pertama, pada lima bagian dari rukun Islam. Rukun yang berbicara tentang bentuk-bentuk peribadatan, yang sifatnya wajib untuk dilaksanakan oleh umat Islam di dalam kehidupannya. Ditempatkannya syahadat pada bagian pertama dari rukun Islam. Karena sesungguhnya semua bentuk peribadatan manusia, terutama umat Islam, di dalam hidupnya. Harus dilandasi oleh kesadaran, bahwa semua itu dilakukan hanya karena Allah semata. Sebagai wujud dari kesaksian dan pengakuan mereka terhadap-Nya, Tuhan yang Maha Esa. Bukan kepada tuhan atau sesembahan yang lain. Dimana pelaksanaan dari tata-cara peribadatan itu, dapat dilihat di dalam Alquran sebagai kitab petunjuk. Juga dicontoh dari apa yang dilakukan dan diajarkan oleh utusan-Nya, Muhammad. Bagi umat Islam sendiri, dua kalimat syahadat ini, merupakan bagian yang harus selalu dibaca di dalam rangkaian ibadah shalat. Ibadah yang dilakukan sebanyak lima kali, dalam sehari dan semalam. Sedangkan bagi non-muslim yang akan masuk ke dalam agama Islam. Dua kalimat syahadat ini juga menjadi persyaratan pertama, yang wajib dilafazkan melalui bibirnya. Selanjutnya harus ditanamkannya di dalam jiwa dengan sepenuh keyakinan. Sebelum akhirnya mereka harus melaksanakan empat rukun Islam yang lainnya, berupa shalat, zakat, puasa dan haji. Dimana upacara masuknya seseorang ke dalam agama Islam, harus dihadiri oleh beberapa orang  muslim lainnya sebagai saksi.

Kata dasar dari syahadat adalah SYAHID, yang antara lain berarti; sumpah, kepastian, kenyataan, yakin, menghadirkan, melihat. Orang yang bersyahadat atau mengucapkan syahadat, berarti adalah orang yang bersumpah dengan  pasti, dengan sepenuh keyakinan. Seakan-akan melihat dan menyakskan secara nyata, dengan sepenuh keyakinan. Bahwasanya tiada ada Tuhan selain Allah, dan mengakui dengan sepenuh keyakinan bahwa Muhammad adalah benar-benar utusan-Nya. Tentunya sumpah yang sangat mendasar ini. Baik bagi mereka yang sudah merasa menjadi seorang muslim, atau mereka yang berniat mengikuti ajaran agama Islam. Harus dilakukan setelah melalui proses pemikiran dan perenungan yang panjang, yang dilakukan secara terus menerus. Dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada, dengan melakukan perbandingan-perbandingan, sebelum akhirnya mengambil suatu kesimpulan dan memutuskan. Bahwasanya memang seharusnya hanya ada Satu Tuhan di seluruh alam semesta ini. Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya dengan haq dan benar. Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa, yang juga telah menciptakan dirinya sebagai seorang manusia. Secara ringkas pesan syahadat sebagai rukun Islam pertama, di dalam ajaran agama yang terakhir, dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.    Pada pesan yang pertama dari syahadat, sebenarnya untuk terakhir kalinya Allah ingin mengingatkan kembali seluruh umat manusia. Apa sebenarnya tujuan Dia menciptakan mereka. Bahwa Dia tidak menciptakan manusia, kecuali untuk mengabdi hanya kepada-Nya. Untuk terakhir kalinya Dia mengingatkan kembali umat manusia. Bahwasanya tidak ada Tuhan yang lain di seluruh alam semesta ciptaan-Nya ini, kecuali Allah, Tuhan yang Maha Esa. Tuhan yang tidak dapat dipersekutukan dengan apapun. Tuhan yang seharusnya dita’ati serta dipatuhi seluruh petunjuk, perintah serta larangan-Nya. Untuk terakhir kalinya juga Dia mengingatkan seluruh umat manusia, untuk kembali kepada ajaran agama tauhid yang benar. Sebagaimana juga telah dibawa oleh para utusan terdahulu.
2.    Untuk menyampaikan pesan serta petunjuk-Nya kepada seluruh umat manusia, Dia tidak melakukannya secara langsung. Tetapi mengangkat seorang manusia yang bernama Muhammad, menjadi utusan-Nya. Dengan dibekali sebuah kitab yang bernama; Alquran. Berisikan pesan dan petunjuk, serta ilmu dan pengetahuan yang sangat berguna bagi manusia. Dicantumkannya nama Muhammad sebagai utusan-Nya pada kalimat syahadat yang kedua disini. Untuk kembali memberi penegasan kepada seluruh umat manusia. Bahwa semua utusan-Nya, mulai dari nabi Adam sampai dengan nabi Muhammad. Maupun mereka para utusan-Nya yang namanya tidak tercantum di dalam Alquran. Adalah manusia-manusia ciptaan-Nya juga, sama seperti manusia yang lain sebagai umatnya. Adanya penegasan semacam ini, agar manusia tidak melakukan penghormatan yang berlebih-lebihan kepada mereka, yang pada dasarnya adalah manusia biasa. Karena dikhawatirkan penghormatan yang berlebihan, akhirnya akan menjurus kepada bentuk pengkultusan dan pemujaan. Dimana hal semacam itu sebenarnya merupakan suatu bentuk kebodohan. Hal yang sangat dilarang oleh-Nya, karena akan cenderung menjerumuskan manusia kepada kemusyrikan. Sebagai umat, memang sudah selayaknya kita memberi penghormatan kepada mereka, para nabi. Karena pada dasarnya dari para utusan-Nya itulah, kita mengenal ajaran agama yang benar. Yang akan membawa manusia kepada jalan keselamatan hidup dunia akhirat.

Memang benar bahwasanya Allah sendiri dan para malaikat, juga bershalawat atau memberi penghormatan kepada mereka sebagaimana dikatakan pada QS. 33 Al Ahzaab di ayat ke 56. Hanya saja dalam hal ini, kita tidak pernah tahu secara pasti. Bagaimana bentuk yang sesungguhnya, shalawatatau penghormatan yang diberikan Allah dan para malaikat kepada nabi. Walau demikian penghormatan umat terhadap para nabi, tetap harus dilakukan. Tetapi harus tetap dalam batas-batas kewajaran. Dalam rangka menjaga, terhadap kemungkinan akan adanya bentuk pengkultusan. Karena sesungguhnya bentuk penghormatan terbaik, yang seharusnya dilakukan umat terhadap nabi. Diwujudkan dalam bentuk menerima dan melaksanakan seluruh petunjuk Allah di dalam Alquran, yang disampaikan kepada Muhammad sebagai utusan-Nya. Mematuhi semua perintah-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya secara benar dan konsisten. Sehingga dengan demikian, sebagai umat kita dapat menjadi manusia-manusia yang benar-benar beriman dan takwa kepada-Nya. Sebagaimana sebelumnya telah dicontohkan dalam perilaku para nabi, di dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya itulah bentuk shalawat, bentuk penghormatan yang sebenarnya sebagaimana diharapkan oleh para nabi dari umat mereka. Karena perilaku umat yang benar-benar penuh dengan keimanan, dalam menjalankan kehidupannya. Merupakan pertanda dari keberhasilan mereka dalam menjalankan tugas kenabiannya, sebagaimana yang telah diamanatkan Allah kepada mereka. Bukan dalam bentuk puji-pujian dalam sebuah nyanyian. Apalagi Muhammad rasulullah dikenal sebagai pribadi yang sangat sopan dan rendah hati, yang pastinya akan menolak segala bentuk pujian terhadap dirinya. Jadi inilah hal paling mendasar dari pesan dua kalimat syahadat, yang sebenarnya harus kita sadari dan pahami.

Dari uraian terhadap dua kalimat syahadat, seperti di atas ini. Bahwasanya Allah menurunkan Alquran kepada Muhammad sebagai utusan yang terakhir untuk disampaikan kepada umat. Kiranya dapat diambil kesimpulan, bahwa selain pengakuan terhadap keberadaan Allah sebagai Tuhan yang Esa. Serta pengakuan terhadap utusan-Nya yang bernama Muhammad, sebagai hal yang tidak dapat dipungkiri. Selanjutnya kita juga harus memberi pengakuan terhadap Alquran yang diturunkan Allah melalui Muhammad, yang diwujudkan dengan selalu membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Pengakuan terhadap Alquran yang secara tersirat menjadi bagian dari syahadat, merupakan hal yang logis. Karena kalau dipikir dengan lebih baik, sekiranya Allah tidak menurunkan Alquran. Akan adakah seorang yang bernama Muhammad, yang diangkat menjadi utusan-Nya? Juga kalau sekiranya Allah tidak menurunkan Alquran. Maka tidak akan ada syahadat, dan tidak akan ada pula ajaran agama Islam ini. Ajaran agama-Nya akan berhenti hanya sampai dengan nabi yang ke 24, ‘Isa. Dalam sebuah skema, bentuk dua kalimat syahadat terlihat seperti berikut ini.
Dalam hal ini, bukan bermaksud untuk merubah bentuk dari syahadat. Tetapi karena pada satu sisi, keberadaan Alquran walau tersirat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diangkatnya Muhammad sebagai rasul-Nya. Maka dalam skema berikutnya, pesan syahadat berikut keberadaan secara tersirat Alquran di dalamnya, akan tampak seperti di bawah ini.


Ditempatkannya Alquran di antara Allah dengan Muhammad. Untuk menunjukan bahwa Alquran lebih dulu diciptakan, sebelum Dia menciptakan manusia. Keberadaan tersirat Alquran yang seakan menjadi kesatuan tak terpisahkan di dalam syahadat, seperti terlihat pada skema di atas ini. Tentunya bukan hal yang bersifat spekulatif, karena hal itu diperkuat oleh keterangan Alquran pada QS. 64 At Taghaabun ayat 8. Ayat yang menerangkan tentang keharusan manusia untuk beriman kepada Allah, kepada nabi atau rasulnya, dan juga kepada Alquran. Dimana keberadaan Alquran disini, diterjemahkan dari kata An Nuur, seperti yang tertulis pada ayat tersebut. Karena pada satu sisi, Alquran juga dikenal dengan nama yang lain, yaitu; An Nuur yang berarti Cahaya. 
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (8).

Sebenarnya memang bukan sekedar pada bahasa lisan, terletak esensi dari pesan syahadat itu. Tetapi yang lebih utama adalah pada pelaksanaannya. Kalau kita memang benar-benar meyakini dan mengimani, bahwasanya Allah sebagai satu-satunya Tuhan di alam ini. Kita juga meyakini dan mengimani, bahwasanya Muhammad memang benar adalah utusan-Nya. Maka dengan demikian, kita juga harus benar-benar mengimani Alquran, yang diturunkan Allah kepadanya. Sebagai petunjuk yang sangat berguna dalam kehidupan. Karena di dalamnya terdapat segala petunjuk tentang peribadatan lainnya, dan segala petunjuk tentang amal kebajikan yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Selanjutnya syahadat juga diwujudkan dengan melaksanakan ibadah shalat, zakat, puasa dan haji. Sebagai bentuk keta’atan serta kepatuhan kepada-Nya, dan pengakuan terhadap kerasulan Muhammad. Karena sesungguhnya pesan syahadat meliputi seluruh peribadatan yang tertera di dalam rukun Islam, dan seharusnya tercermin dalam perilaku manusia pada kehidupannya sehari-hari. Adanya kata IQRAA yang berarti; BACA. Sebagai kata awal dari ayat yang pertama kali diturunkan di gua Hiraa, kepada Muhammad. Menunjukan betapa pentingnya arti membaca bagi manusia. Jadi kalau kita mengakui bahwasanya Alquran merupakan bagian dari syahadat, walaupun secara tersirat. Maka sejatinya membaca Alquran, harus menjadi bagian dari syahadat itu sendiri. Sehingga membaca dan mempelajari Alquran, dapat dipahami sebagai suatu bentuk peribadatan. Itulah sebabnya mengapa dikatakan, bahwa dengan membaca dan mempelajarinya, insya Allah kita akan mendapat pahala dari-Nya. Jadi sekali lagi perlu diingat, sehubungan dengan adanya konsep syahadat. Dimana sekiranya Allah tidak menurunkan Alquran, sebagai petunjuk kepada umat manusia. Maka sesungguhnya tidak akan ada Muhammad sebagai nabi terakhir yang menjadi utusan-Nya, tidak akan ada pula konsep syahadat dan ajaran agama ini.

Ketika seseorang melaksanakan ibadah shalat, pada saat itu dia juga bersyahadat. Karena sesungguhnya pada saat itu dia mengakui Allah, yang telah memerintahkan kepadanya untuk mendirikan ibadah shalat. Bersamaan dengan itu, dia juga mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya. Karena bagaimana seharusnya gerakan shalat itu dilakukan. Bacaan apa dan surat apa dari Alquran yang seharusnya dibaca, dan berapa banyak hitungan raka’at seharusnya dilakukan pada setiap waktu shalat. Semua itu hanya didapat dari petunjuk orang yang bernama Muhammad sebagai utusan-Nya. Tentang gerakan shalat pun, di dalam Alquran hanya disinggung sebatas ruku’ dan sujud. Demikian juga ketika seseorang melaksanakan perintah-Nya untuk membayar zakat, berpuasa atau melaksanakan ibadah hajji. Semua dilakukan sebagai bentuk pengakuannya dirinya, terhadap ke Esa-an Allah. Tetapi tentang bagaimana zakat dilakukan dan berapa banyak perhitungan zakat yang seharusnya dibayar oleh seseorang. Pada waktu yang mana sebenarnya puasa di mulai dan di akhiri pada setiap harinya, atau bagaimana selayaknya ibadah haji itu dilaksanakan. Semua itu mengikuti kepada petunjuk yang diberikan oleh rasulullah. Karena di dalam Alquran tidak diperinci tentang perhitungan zakat dan ritual haji. Sedangkan tentang pelaksanaan ibadah puasa, pada QS. 2 Al Baaqarah di ayat ke 187 hanya dikatakan sebagai berikut;

.........., dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, .......... (187).

Memang agak merepotkan kalau setiap hari kita harus menentukan waktu fajar di bulan puasa, dengan cara memperbandingkan benang putih dan benang hitam. Tetapi akhirnya menjadi lebih mudah dan lebih jelas. Karena sekarang kita selalu memulai puasa pada saat tibanya waktu shalat shubuh, dan mengakhiri puasa pada saat tiba waktu shalat maghrib setiap harinya. Dimana semua itu kita lakukan, tentunya berdasarkan arahan dan petunjuk dari nabi-Nya. Jadi melaksanakan semua peribadatan yang tercantum pada rukun Islam. Sebenarnya juga merupakan pengakuan terhadap Allah yang Maha Esa, dan juga pengakuan terhadap Muhammad rasulullah. Karena semua teknis pelaksanaan peribadatan, kita dapatkan penjelasannya dari Muhammad sebagai rasul-Nya.

Semua yang tercantum di dalam rukun Islam, sebenarnya merupakan identitas dari kaum muslimin. Karena seseorang yang mengaku dirinya beragama Islam, sejatinya melaksanakan semua rukun tersebut. Bersyahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa dan melaksanakan ibadah haji. Sebagai konsekwensi logis atas pernyataan syahadatnya, bahwa dirinya adalah seorang yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya. Hanya saja pada pelaksanaan ibadah haji, Dia masih memberi kelonggaran kepada umat, yang tidak atau belum mampu untuk melaksanakannya. Sebagaimana keterangan itu disampaikan-Nya pada QS. 3 Ali Imraan di ayat ke 97.

....... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia tehadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam ....... (97).

Karena pada pelaksanaan ibadah haji, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti yang menyangkut masalah jarak tempuh yang jauh, bagi mereka yang tidak tinggal di sekitar negeri Arab. Menyangkut masalah keuangan, maupun masalah kondisi kesehatan dari seseorang.

Sehubungan dengan syahadat, selayaknya harus menjadi perhatian bersama. Terhadap mereka non-muslim yang masuk Islam. Karena tidak sedikit masuknya mereka ke dalam agama Islam. Terutama laki-laki, hanya karena ingin menikah dengan wanita muslim. Bukan dikarenakan niat yang tulus dan ikhlas, ingin menjadi seorang muslim yang benar beriman kepada-Nya. Dimana dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama, yang diucapkannya di hadapan para saksi. Untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah menjadi seorang muslim. Hanya dijadikan sekedar syarat, agar dapat menikahi wanita muslim. Karena setelah pernikahan dilangsungkan, banyak di antara mereka yang tidak melaksanakan rukun Islam yang lainnya, seperti shalat, zakat, puasa, apalagi haji. Di awal perkawinan banyak pula di antara mereka yang sudah mulai melarang sang isteri, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Banyak pula setelah perkawinan terjadi, si suami kembali kepada agamanya yang lama. Bahkan tidak sedikit pula yang akhirnya memaksa si isteri, untuk ikut dengan keyakinan agamanya. Sesungguhnya hal ini harus menjadi kewajiban kita bersama. Untuk mengingatkan setiap orang tua, yang anak gadisnya sudah mulai dekat dengan laki-laki yang tidak seiman. Karena mengingkari Allah dan rasulnya, dosa besar yang tidak terampuni.

Membaca, mempelajari, menghayati dan mengamalkan Alquran. Sejatinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan beragama setiap muslim. Ketidak-perdulian kita sebagai umat terhadap Alquran. Sama juga dengan mengabaikan Allah dan Muhammad itu sendiri sebagai orang yang diutus untuk menyampaikan petunjuk-Nya. Peringatan bagi mereka yang lalai terhadap Allah dan Rasulnya, dengan tidak menta’ati petunjuk-Nya di dalam Alquran. Disampaikan-Nya pada QS. 3 Ali Imraan di ayat ka 32. Sebaliknya bagi mereka yang meyakini, dan mengamalkan petunjuk-Nya di dalam kehidupan sebagai wujud keta’atan kepada-Nya. Maka Allah tentu akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka. Sebagaimana dikatakan pada QS. 3 Ali Imraan ayat 132.

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasulnya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir” (32).
Dan ta’atilah Alah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132).

Kalau skema dari syahadat seperti di atas ini, dijadikan sebagai model pendekatan terhadap para nabi lainnya. Maka skema seperti itu, akan lebih mempermudah bagi kita. Untuk dapat memahami apa yang dimaksud sebagai syahadat, sehubungan dengan masa kenabian Adam maupun pada nabi-nabi lainnya sampai dengan nabi Isa, bersama dengan umat mereka masing-masing. Karena nama Muhammad, sebagai utusan Allah, sebagaimana yang terdapat pada skema syahadat. Dapat saja digantikan oleh nama dari nabi yang lain, dalam upaya memahami bentuk syahadat dari para nabi yang bersangkutan. Disinilah terlihat kehebatan konsep syahadat, yang diberlakukan Allah pada agama yang terakhir. Dia seakan menjadi alat penembus lorong kegelapan, terhadap apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Bagaimana bentuk syahadat, atau pengakuan umat terhadap Allah dan rasul-Nya, yang terjadi di masa lalu. Jadi dalam skema sederhana ini, bentuk pengakuan umat terhadap Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa. Juga pengakuan umat terhadap Adam sebagai utusan-Nya, terlihat mempunyai bentuk yang sama. Sebagaimana pengakuan umat terhadap Allah, dan Muhammad sebagai utusan-Nya pada masa sekarang ini. Seperti yang digambarkan pada skema berikut di bawah ini.


Jika diperhatikan dengan lebih seksama. Dalam skema seperti ini, kita tidak melihat adanya perbedaan yang berarti, dari kedua bentuk syahadat itu. Baik yang berlaku pada masa kenabian Muhammad, maupun pada masa kenabian Adam. Kalau pada masa kenabian Muhammad. Umat mengakui dan mengimani, bahwasanya tiada Tuhan, selain Allah yang Maha Esa, dan mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya. Maka pada masa kenabian Adam, umatnya juga mengakui dan mengimani Tuhan yang sama. Bahwasanya tiada Tuhan, selain Allah yang Maha Esa. Hanya saja pada bagian yang menyangkut nama dari seorang nabi, sesuai dengan masanya. Mereka tidak mengakui Muhammad, tetapi mengakui Adam sebagai utusan-Nya pada saat itu. Jadi kalaupun kita melihat adanya semacam perbedaan disini. Hal itu hanya sebatas pada manusianya saja, pada nama dari kedua nabi-Nya saja. Sesuai dengan berlakunya masa kenabian mereka masing-masing. Perbedaan yang sebenarnya tidak mempengaruhi esensi dari pesan syahadat itu sendiri. Hanya saja sebatas ini, kita juga tetap tidak mengetahui. Apakah bentuk pengakuan umat dari nabi terhadap Allah, maupun terhadap Adam sendiri sebagai seorang utusan-Nya. Juga disampaikan secara lisan? Sebagaimana yang dilakukan oleh umat, pada ajaran agama Islam yang dibawa oleh Muhammad sekarang ini?. Allahu ‘alam.

Dengan adanya pengakuan terhadap Tuhan yang sama, yaitu Allah; Tuhan yang Maha Esa. Baik itu pada masa kenabian Adam, maupun pada masa kenabian Muhammad dan nabi-nabi yang lain yang berada di antara mereka. Menjadi semakin jelas adanya kesinambungan dari adanya agama tauhid, sebagai agama yang satu. Maka sebenarnya sejak saat itu pula berlaku ajaran agama Islam, mulai dari nabi yang pertama sampai dengan nabi yang terakhir. Berikut dengan ajaran agama dari para nabi yang sebelumnya telah diutus, yang berada di antara keduanya. Dengan demikian skema dari syahadat semacam ini, sebenarnya dapat juga kita terapkan kepada nabi-nabi lainnya. Karena sesungguhnya konsep syahadat itu, sudah dirancang oleh-Nya untuk berlaku bagi semua utusan bersama umatnya masing-masing. Mulai dari utusan yang pertama sampai utusan yang terakhir. Hanya di dalam pelaksanaannya peribadatannya saja, yang terlihat berbeda. Sebagaimana yang dikatakan pada QS. 22 Al Hajj pada 67, bahwa ada syari’at yang ditetapkan oleh-Nya bagi tiap-tiap umat.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (67).

Pada skema syahadat berikut ini, terlihat bahwasanya semua umat dari Adam sampai dengan ‘Isa mengakui Tuhan yang sama. Juga semua umat mengakui adanya para utusan, yang membawa petunjuk Allah. Pada skema seperti yang terlihat di bawah ini, kita juga tidak melihat adanya suatu perubahan dari bentuk syahadat. Sebagaimana yang kita lihat, pada skema sebelumnya. 
Petunjuk Allah yang diturunkan kepada Adam di dalam Alquran, disebut sebagai Alhudaa. Sedangkan petunjuk yang diturunkan kepada Muhammad, disebut dengan nama Alquran. Tetapi kata Alhudaa dan Alquran sebagai petunjuk-Nya, bukanlah merupakan suatu perbedaan. Karena Alquran juga disebut sebagai Alhudaa, yang berarti Petunjuk. Jadi semuanya juga merupakan petunjuk dan pengetahuan dari Allah, bagi manusia. Dimana selanjutnya petunjuk itu, harus mereka sampaikan kepada umatnya masing-masing. Dalam rangka menjalankan tugas kenabian, sebagaimana yang sebelumnya telah diamanatkan oleh-Nya.

 
Jadi pada skema sebagaiman yang terlhat di atas ini, walau secara tersirat. Akan tampak keberadaan Alquran maupun Alhudaa sebagai petunjuk-Nya bagi umat manusia. Berada di antara Allah yang Maha Mengetahui Segalanya, dengan manusia yang menjadi utusan-Nya. Bentuk skema semacam ini, selanjutnya juga dapat diterapkan pada seluruh utusan-Nya yang lain. Karena adanya para utusan itu, memang sudah dipersiapkan untuk menerima petunjuk-Nya, untuk disampaikan kepada umatnya masing-masing.

Selanjutnya ketika skema yang berbicara tentang tersiratnya keberadaan Alquran yang diterima oleh Muhammad, dan juga Alhudaa yang diterima Adam. Juga kita terapkan pada para utusan yang lain, berikut petunjuk yang telah mereka terima. Maka skema itu juga akan tetap menampilkan bentuk yang sama. Sebagaimana terlihat pada bagian bawah ini.


 
Diletakkannya kata Alhudaa pada utusan yang lainnya, dalam skema di atas. Karena dari semua petunjuk Allah yang telah diberikan kepada para utusan-Nya, mulai dari Adam sampai dengan Muhammad, sebagaimana diterangkan di dalam Alquran. Hanya ada empat kitab petunjuk saja yang diberi nama oleh-Nya. Ke-empatnya adalah Taurat, Zabur, Injil dan Alquran. Yang masing-masing diberikan kepada nabi Musa as, nabi Daud as, nabi Isa as dan terakhir kepada nabi Muhammad saw. Sedangkan petunjuk Allah yang diterima oleh para nabi lainnya. Baik yang namanya disebutkan di dalam Alquran maupun yang tidak, hanya disebutkan dengan kata Alhudaa (petunjuk Allah) saja.

Dengan adanya penjelasan dari skema di atas ini. Menjadi semakin jelas lagi, siapa sesungguhnya para nabi itu. Sebenarnya mereka semua adalah sama, manusia biasa juga, yang terpilih untuk menjadi utusan-utusan Allah. Dalam rangka menyampaikan petunjuk Allah bagi keselamatan hidup manusia pada masing-masing masa kenabiannya. Jadi adanya konsep syahadat, sebagaimana dikenal di dalam ajaran Islam. Merupakan cara Allah untuk memberi penjelasan kepada umat. Juga terhadap apa yang selama ini dipercaya oleh umat dari nabi Isa. Tentang siapa sebenarnya nabi Isa yang sesungguhnya. Dimana terlihat dengan jelas pada konsep syahadat ini. Bahwasanya ‘Isa juga hanya sebatas manusia biasa, yang menjadi utusan-Nya dan bukan Tuhan. Sama sebagaimana manusia atau utusan yang lainnya, di antara Adam sampai dengan Muhammad. Sehingga menganggap seorang nabi sebagai Tuhan, diharapkan tidak akan terjadi lagi pada umat dari nabi yang berikutnya, yaitu; umat Muhammad. Karena mempersekutukan Allah, merupakan kesalahan besar yang tidak akan pernah terampuni. Petunjuk Alquran yang menerangkan bahwa sesungguhnya ‘Isa adalah manusia biasa, yang menjadi utusan-Nya. Bukan Tuhan, sebagaimana diperkirakan oleh umatnya. Karena sesungguhnya dia juga menyembah Allah. Tuhan yang sama dengan Tuhan dari umatnya. Dimana dia sendiri juga, tidak pernah sekali pun menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sebagaimana yang disampaikan melalui mulutnya sendiri kepada umatnya. Dapat dilihat pada QS.3 Ali Imraan di ayat ke 51, dan pada QS.5 Al Maa’idah di ayat ke 72 dan ke 116.

“Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus (51)”.
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:” Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata:”Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun (72).
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:” Hai ‘Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara yang ghaib-ghaib (116).

Keberadaan umat, pada setiap periode kenabian sejak Adam sampai dengan Muhammad. Sesungguhnya merupakan tujuan akhir, dari diturunkannya semua petunjuk Allah kepada manusia. Skema lanjutan dari konsep syahadat seperti di bawah ini, menjadi sangat penting. Karena akan memberi gambaran sesungguhnya, tentang bagaimana peribadatan yang benar itu seharusnya dilakukan. Dimana peribadatan kepada-Nya harus dilakukan secara langsung, tanpa perantara. Sebagai wujud dari pengakuan manusia, terhadap ke Esa-annya. 
Apa yang digambarkan sebagai konsep syahadat di masa kenabian Adam dan Muhammad, juga para utusan yang lainnya. Beserta dengan umatnya masing-masing, seperti terlihat pada skema di bagian atas. Tampaknya seperti tidak berbeda dengan susunan dari ayat-ayat yang terdapat pada QS. 55 Ar Rahmaan, mulai ayat pertama sampai dengan ayat ke empat. Dimana kata AR RAHMAAN sebagai judul surat, maupun sebagai bunyi dari ayat pertama pada surat ini. Sepertinya mempunyai hubungan yang kuat dengan kata AR RAHMAAN. Ketika kata AR RAHMAAN itu ditemukan, dan akhirnya menjadi awal dari konsep syahadat pada saat anak-anak membaca dan mempelajari Juz ‘Amma. Sebagaimana terlihat pada uraian tentang Syahadat, di tulisan yang pertama.
 
Penempatan kata Allah pada kolom syahadat di baris pertama, tepat sekali ketika berhadapan dengan kata Ar Rahmaan sebagai yang Maha Pemurah sebagaimana yang tertulis pada ayat pertama dari surat Ar Rahmaan. Karena kata Ar Rahmaan merupakan nama lain dari Allah, yang memang bersifat Pemurah kepada seluruh ciptaan-Nya. Demikian juga dengan penempatan kata Alquran pada kolom syahadat, yang bersanding di sebelahnya dengan kata Alquran sebagai sumber ilmu dan pengetahuan, yang diturunkan Allah bagi umatnya sebagai ayat kedua dari surat Ar Rahmaan. Penempatan kata Manusia sebagai utusan-Nya yang berada di baris ketiga. Juga sesuai dengan ayat ketiga dari surat Ar Rahmaan, yang berbunyi; Manusia diciptakan. Dimana di antara manusia yang diciptakan, ada yang ditetapkan sebagai manusia biasa, dan ada juga yang diangkat menjadi utusan-Nya. Kata Umat pada baris keempat dari syahadat, yang berhadapan dengan kata Mengajar manusia pandai berbicara pada ayat keempat surat Ar Rahmaan. Untuk menunjukkan bahwa kepandaian berkomunikasi di antara sesama manusia menjadi sangat penting. Karena bagaimana seorang utusan Allah dapat menerima dan juga memahami petunjuk-Nya. Dan juga bagaimana pula, seorang utusan dapat menyampaikan petunjuk itu kepada umatnya. Kalau mereka tidak mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, di antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan melihat adanya semacam kemiripan dari uraian tentang konsep syahadat, dan empat ayat awal dari surat ke 55 Ar Rahmaan seperti ini. Bukan tidak mungkin pula bahwa konsep tentang dua kalimat syahadat. Diambil berdasarkan bunyi dari susunan ayat-ayat awal surat Ar Rahmaan. Kalau pun tidak demikian, setidaknya konsep syahadat mempunyai dasar pijakan yang jelas. Sebagaimana terlihat bahwa syahadat seakan mempunyai hubungan yang erat, dengan 4 ayat awal dari surat ke 55 Ar Rahmaan.

Selanjutnya pada skema A dan B di bawah ini, tampak bagaimana gambaran secara ringkas dari Alquran yang diturunkan Allah kepada utusan-Nya Muhammad. Dimana selanjutnya petunjuk itu disampaikannya kepada umat. Sebagaimana tampak pada skema A, susunannya adalah; Allah, Alquran, Muhammad dan Umat. Proses penyampaian kepada umat, dimulai sejak pertama kali diwahyukan di gua Hiraa. Terus berlanjut sejalan dengan diturunkannya seluruh ayat Alquran secara berangsur-angsur, sampai akhirnya Alquran selesai diwahyukan. Dimana tidak lama sesudah itu, maka sampai juga beliau pada akhir masa kenabiannya. Nabi besar Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang terakhir, kembali ke hadirat Allah swt. Setelah menjalankan amanat kenabian selama kurang lebih 23 tahun. Selama itu pula beliau dengan tidak mengenal lelah, dan penuh dengan keikhlasan, menyampaikan amanat-Nya kepada umat. Menyampaikan bahwasanya Allah itu Satu, dan hanya kepadanya manusia seharusnya mengabdikan diri. Pada awalnya amanat itu disampaikannya secara sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya dilakukan secara terang-terangan. Selama itu pula dengan tabah beliau menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan. Bahkan akhirnya sampai ke dalam bentuk peperangan.

Setelah beliau wafat, selanjutnya posisi umat digambarkan seperti tampak pada skema B, yaitu; Allah, Alquran dan umat. Maka dengan demikian, petunjuk Allah berupa Alquran. Sebagaimana yang tersirat keberadaannya di dalam syahadat. Sejatinya sekarang menjadi tanggungjawab umat seluruhnya. Umat yang memahami pesan syahadat dengan sebenarnya. Bahwa syahadat bukan hanya sekedar ucapan di bibir saja. Selama proses pewahyuan dan pelaksanaan tugas kenabian. Tentunya ada “kedekatan” antara Allah dengan Muhammad, sebagai utusan-Nya. Sebagaimana tampak digambarkan pada skema A, yaitu berupa; Allah, Alquran dan Muhammad. Kedekatan antara Allah sebagai Sang Pencipta dengan manusia biasa sebagai umat-Nya. Sebagaimana kedekatan Dia dengan Muhammad sebagai rasulnya, sebenarnya juga dapat kita wujudkan. Baik ketika Muhammad sebagai rasulullah masih berada di antara umatnya, maupun setelah beliau tiada. Sebagaimana kedekatan itu digambarkan pada skema B, yaitu; Allah, Alquran dan Umat.
Dapat terwujudnya kedekatan seperti itu, apabila umat sebagai hamba-Nya mau menggunakan Alquran sebagai media, dalam upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan senantiasa membaca, mempelajari, menghayati dan mengamalkan petunjuk Allah, dalam kehidupan sehari-hari. Melaksanakan seluruh perintah-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya. Itulah bentuk hubungan secara langsung tanpa perantara, antara manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Tuhannya. Inilah konsep peribadatan yang paling mendasar di dalam ajaran agama Islam, sebagai agama tauhid. Sebenarnya posisi seperti itu, yaitu; kedekatan Allah dengan umatnya. Juga dapat terjadi pada umat dari setiap nabi, yang telah diutus sebelumnya. Asalkan pada saat berlakunya masa kenabian dari seorang utusan, siapa pun dia. Mereka sebagai umatnya tidak mengadakan sesuatu apapun sebagai perantara, di antara Allah dengan dirinya. Kecuali melaksanakan semua petunjuk, berupa perintah dan larangan-Nya. Sebagaimana yang tertulis di dalam kitab petunjuk mereka masing-masing, yang memang benar datang dari Allah. Itulah pesan syahadat yang sebenarnya, mengajak manusia untuk selalu meng-Esa-kan Allah berdasarkan petunjuk kepada Alquran. Sebagaimana dicontohkan oleh nabi Muhammad saw, dalam kehidupannya.

Sebenarnya keberadaan Allah itu sendiri, dekat dengan umatnya. Tetapi upaya umat untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetap harus selalu dilakukan pada setiap saat. Walau ada persyaratan tertentu yang harus dilakukan manusia, untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana diungkapkan di dalam Alquran, pada QS. 2 Al Baaqarah ayat 186, yang berbunyi sebagai berikut.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah (bahwasanya) Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a, apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (186).

Dengan sangat jelas ayat ini mengatakan, bahwasanya Allah itu memang sangat dekat. Dimana setiap saat manusia dapat berhubungan dengannya. Karena sesungguhnya, setiap saat pula Allah mengetahui seluruh gerak perbuatan yang dilakukan manusia di dalam kehidupannya. Dia akan mengabulkan permohonan doa seluruh manusia, kalau mereka mau memenuhinya. Dengan cara tidak mempersekutukan Dia dengan apapun. Mematuhi petunjuk-Nya, berupa perintah dan larangan yang telah ditetapkan-Nya. Maka dengan demikian, hendaknya apa yang selama ini selalu kita sampaikan kepada-Nya di dalam ibadah shalat. Sebagaimana yang di kutip dari QS. 6 Al An’aam ayat 79, 162 dan 163;

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79).
Katakanlah: “sesungguhnya, sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (162), tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan akulah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah  (163)”.

Tidak sekedar menjadi ungkapan kosong yang tidak ada arti, di dalam kehidupan kita yang nyata. Sama sekali tidak terlihat bekasnya dalam kehidupan. Kalau memang kita tidak mau menjadi orang yang jauh dari-Nya, menjadi manusia yang merugi di dalam hidup ini.

Kembali kepada pertanyaan semula, bagaimana sebenarnya cara nabi Adam atau nabi Muhammad melaksanakan syahadat. Seperti kita ketahui, bahwasanya syahadat itu bukan hanya sekedar bahasa lisan. Karena pada dasarnya, dia juga dapat berupa bahasa tindakan. Sebagai seorang manusia, yang kemudian diangkat menjadi utusan-Nya. Beliau juga merasakan rasa takut yang sangat luar biasa. Ketika pertama kali menerima wahyu Allah, yang disampaikan oleh malaikat Jibril di goa Hiraa. Rasa takut dan gelisah, juga rasa bingung dan ragu dirasakan senantiasa meliputi dirinya. Seakan tidak percaya terhadap kebenaran dari petunjuk yang telah diterima. Kemudian setelah beliau terlihat agak tenang, Sitti Khadijah mengajak suaminya menemui Waraqah bin Naufal, menceritakan peristiwa yang dialami suaminya. Berdasarkan pengetahuan dari kitab Injil yang dipelajarinya. Waraqah mengatakan bahwa apa yang diterima Muhammad, merupakan petunjuk yang benar datang dari Tuhan semesta alam. Sesungguhnya apa yang dialami Muhammad, merupakan petunjuk dan pertanda bagi orang yang akan memikul tugas kenabian dari-Nya. Bahkan di dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwasanya Waraqah berjanji. Seandainya dia masih hidup, ketika Muhammad melakukan syiar agama yang dibawanya. Maka dia akan mengikuti ajaran agama yang disampaikannya.

Setelah Muhammad merasa haqqul yaqin, meyakini dengan sesungguhnya bahwa petunjuk yang diterimanya dari malaikat Jibril di goa Hiraa memang benar datang dari Tuhan semesta alam. Selanjutnya petunjuk-Nya itu disampaikannya kepada orang lain. Sebagai tujuan akhir dari diturunkannya petunjuk Allah, bagi keselamatan hidup umat manusia. Dengan demikian sebenarnya pada titik itu dapat dikatakan, bahwa Muhammad dengan sepenuh kesadaran mengakui Allah sebagai Tuhannya. Dan pada titik itu pula, dia dengan sepenuh kesadaran menerima kenyataan. Bahwa dirinya telah menjadi seorang penyampai risalah, menjadi utusan Allah. Itulah sebenarnya yang dapat dipahami, dari “syahadatnya” Muhammad kepada Allah yang Maha Esa. Sebagai bentuk pengakuan terhadap eksistensi Allah, sebagai Tuhan yang Maha Esa di segenap alam. Juga sebagai bentuk pengakuan terhadap eksistensi dirinya sebagai utusan Allah, bagi seluruh umat manusia. Uraian tentang syahadatnya Muhammad semacam ini, kiranya patut untuk dikemukakan. Paling tidak dapat dijadikan sebagai sedikit penawar, terhadap keraguan apakah Muhammad bersyahadat atau tidak. Karena pada dasarnya kita memang tidak pernah mengetahui secara pasti, apakah Muhammad bersyahadat secara lisan, sebagaimana yang dilakukan oleh umatnya. Kalau hal ini memang dapat diterima sebagai “syahadatnya” Muhammad. Menjadi jelas bahwa syahadat memang bukan hanya sekedar bahasa verbal. Tetapi juga dapat berupa tindakan nyata yang dilakukan.

Bentuk syahadat yang terjadi atau yang “dilakukan” oleh Muhammad, yang akhirnya menjadi nabi terakhir. Sebenarnya dapat juga terjadi pada manusia biasa. Ketika seseorang melakukan pencarian terhadap nilai kebenaran dari suatu ajaran agama. Di antara sekian banyak ajaran agama yang ada dan diketahuinya. Kemudian setelah dia melakukan semacam perbandingan dan juga pengujian. Sehingga ketika akhirnya dia meyakini dengan keyakinan yang sesungguhnya, haqqul yaqin.  Bahwa ajaran agama yang dibawa oleh Muhammad yang berasal dari Allah Tuhan yang Maha Esa, adalah ajaran agama yang benar. Selanjutnya dia memutuskan, bahwa dirinya akan menerima dan mengikuti ajaran agama itu. Sesungguhnya dalam hal ini penulis juga merasa haqqul yaqin, bahwa pada titik itu, orang tersebut telah bersyahadat. Karena pada detik dia memutuskan, untuk menerima ajaran agama yang dibawa oleh Muhammad dari Tuhannya. Sesungguhnya pada detik itu pula, keputusan itu diketahui oleh Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Kalau dia kemudian menyatakan syahadatnya secara verbal dihadapan ulama, yang juga disaksikan oleh umat Islam lainnya. Selain merupakan formalitas, agar umat di sekitarnya mengetahui bahwasanya dia telah menganut ajaran Islam, menjadi seorang mu’allaf. Juga agar selanjutnya dia mendapat bimbingan lebih lanjut dari ulama, atau mereka yang lebih mengerti ajaran agama. Tentang bagaimana seharusnya seorang muslim, melaksanakan syariat Islam di dalam kehidupannya sehari-hari. Karena menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Tidak hanya berhenti hanya sebatas pada pengucapan syahadat saja.

Demikian juga yang sesungguhnya terjadi dengan para utusan lainnya, mulai dari nabi Adam sampai dengan nabi ‘Isa. Termasuk utusan lain yang namanya tidak disebutkan di dalam Alquran. Ketika mereka menerima petunjuk Allah bagi keselamatan umatnya. Selanjutnya menyampaikan petunjuk itu kepada umat mereka masing-masing. Disitulah sebenarnya mereka bersyahadat, mengakui Allah yang telah memberinya petunjuk. Dan dengan disampaikannya petunjuk itu kepada umatnya. Disitu pula mereka menerima kenyataan, bahwa dirinya telah menjadi utusan Allah. Terlihat disini bahwa sesungguhnya semua utusan mulai dari Adam sebagai nabi pertama, sampai dengan Muhammad sebagai nabi terakhir semuanya bersyahadat. Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, bahwa banyak umat yang percaya bahwa nabi Adam dan nabi Muhammad juga bersyahadat. Tetapi sebatas ini, uraian yang ditulis tetap saja tidak dapat menunjukkan, apakah keduanya bersyahadat secara lisan. Walau demikian, uraian ini dapat memperlihatkan dengan jelas. Adanya kesinambungan dari ajaran agama Islam sebagai agama tauhid, mulai dari Adam sampai dengan Muhammad.















1 komentar: